– Nyanyiaan Keteguhan Hati – bag.1

Karya: AI

Bunyi perut terdengar keras… duh laper perutnya meronta, suasana siang ini begitu panas batin seorang gadis. Dia duduk di taman memandang keatas sambil menyeka teringatnya dengan jilbab orange nya.. Cuaca hari ni begitu panas, padahal baru empat jam lalu kota ini telah diguyur hujan deras. Itulah yang terjadi di kota perjuangan, kota Surabaya. Ketika hujan, maka suasana akan dingin sekali tapi ketika panas maka suasanan akan panas sekali, sungguh aneh, apakah ini merupakan efek samping dari global warming? Efek yang terjadi karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak menjaga lingkungannya, lalai akan hal kecil dan berdampak besar seperti yang beberapa minggu lalu terjadi bencana di Situ Gintung, dalam beberapa hitungan menit saja, ketika Allah mengatakan “Kun fayakun” maka terjadilah apa yang tidak diketahui oleh manusia, bencana yang telah menratakan semua bangunan disana kecuali sebuah bangunan berdiri kokoh yang tidak hancur yaitu rumah Allah, mesjid, subhanallah… begitu besari kekuasaan Allah. Maka Nikmat manakah yang kamu dustakan?

Hari ini dia harus melakukan deadline kegiatan yang telah tertulis dalam agenda buku hijaunya. Buku yang kemana-mana selalu dia bawa, buku yang mengatur segala aktivitasnya perhari, perbulan, sampai dengan 60 tahun kedepan mau kemana. Mulai dari bangun tidur, kuliah, nyuci baju, janjian ketemu orang, setrika baju, rapat himpunan, syuting (syuro penting), lulus dengan IPK cumlaud, dapat beasiswa S2 keluar negeri, bisa keliling dunia gratis, kerja di perusahaan asing, mendirikan perusahaan sendiri, nikah umur 22 tahun, hingga agenda punya anak umur keberapa, selalu dia tulis dalam buku yang sudah hampir punah ini, dan demi menjaganya Mita menyambung tiap lembar yang sobek dengan lakban itam karena buku ini telah menemaninya berjalan dalam penitian menjadi aktivis Mahasiswa walupun didalam dirinya dia tidak pantas menyandang kata-kata aktivis karena banya hal yang belum dia lakuan untuk sebuah perubahan.

Dialah gadis yang bernama Mita. Orang yang ambisius, orang yang apabila mempunya keinginan kuat, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai impian itu, dan impian itu kadang ditulisnya di buku hijaunya, yang kadang impiannya itu tidak masuk akal bahkan sering diketawain oleh teman-teman yang tidak sengaja membaca bukunya. Di dalam buku 5 cm karya Donny Dhirgantoro, dalam kisah 5 sekawan, ada hal yang menarik yang telah dia tangkap, “ …Ada yang pernah bilang kalau idealisme adalah kemewaha terakhir yang dimiliki oleh generasi muda……”, dan sebuah kalimat sederhana tapi menakjubkan dalam buku itu.. “Apa yang lo mau, lo kejar aja,… taruh dikepal, lo terus jangan sampai lepas, jalanin aja, kejar aja, psasti nanti lo diterima… semuanya kagum sama lo….” Dan intinya ketika kau punya impian,maka dekatilah..,, kejarlah, dan itu lah yang dilakukan seorang Mita pada saat-saat ini.

Tapi hari ini entah kenapa, suasana hatinya tidak karuan dan tidak menentu. Dia menatap dalam cakrawala-cakrawala diatas sana, cakrawala yang menerobos puing-puing awan yang bertebangan, dengan tatapan kosong hampa. Mengadah keatas, lalu mendesir mengeluarkan napas akan kecapekan atas rutinitas yang dia lakukan. Ya.. dia sekarang letih dan amat amat letih. Kesibukan yang dia lakukan selama ini hanya sebuah tempat pelarian saja, dimana sekarang ini dia sangat sedang membutuhkan suatu perhatian khusus. Dia teringat ibunya disana, apa kabar wanita yang sudah berumur setengah abad itu. Rongga kepalanya mulai berputar dan berpikir semakin kedalam, membayangkan ketika dia akan harus kehilangan untuk kedua kalinya orang yang sangat ia kasihi, orang yang telah membuat dia berada di dunia ini, memorinya mulai berputar mengingat 11 tahun yang silam..
“Dek, ayo mandi…cepat pakai baju muslim” tetangganya yang membangun Mita dipagi yang telah merubah segala hidupnya. Dia teringat sekarang mama berada rumah sakit sedang menunggu papa yang terbaring tidak berdaya dikarenakan penyakit stroke dan jantung. Teringat ketika papa jatuh sewaktu seminggu lebaran, awalnya papa sehat saja tapi entah kenapa, papa meminta kami para anak-anaknya untuk memijit seluruh badannya yang kedinginan, yang pada saat itu kami menangkap sinyal-sinyal yang berbeda. Keesokan harinya papa langsung tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Mita bangun, dan melakukan apa yang diperintahkan oleh tetangganya. Dia melihat rumah ini sudah hampir barang-barangnya tidak ada lagi, melihat sebuah ranjang yang hanya pas untuk satu orang saja, berada di ruang tamu dan disekelilingnya hanya karpet dan tikar. Pikirannya mulai mengada-ngada… apa papa meninggal? Ah, tidak mungkin. Sewaktu berjalan ke kamarmandi dia mendengar tangisan kakak dan abangnya yang sedang memegang telepon, Dia yakin orang yang berada disana sedang mengabarkan berita buruk. Dia cuek karena mita ga mau apa yang dipikirkannya akan benar-benar terjadi, rasanya sekarang dia belum siap, dia yang berumur 9 tahun tepatnya kelas 4 SD harus tumbuh besar dengan tanpa seorang ayah. Ketika Mita selesai keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat rumahnya sudah dikunjungai berbagai macam orang, ada yang sibuk memotong daun pandan dan bunga, ada yang sibuk membuat minuman yang banyak, ada yang sibuk membereskan tempat serta menata kursi di teras depan dan Mita merasa berada di tempat orang nikahan. Sewaktu dia membantu ibu-ibu yang mengiris daun pandan, seseorang wanita separuh baya memukul pundakku dengan kasih sayang dan berkata “ Mita yang sabar ya!!” dan kata-kata itu membuat apa yang dia pikirkan adalah BENAR. Dan akhirnya itu benar, jenazah papa datang. Mita tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia melihat mama menangis karena mama kehilangan sosok orang yang amat dia cintai dan menerima kenyataan bahwa esok hari mama akan memulai menjadi kepala keluarga membanting tulang untuk pendidikan ke enam anaknya , kakakd dan abang Mita juga menangis “papa…maafkan kami, papa..papa…..huhuk”, tidak memandang apakah laki-laki ataupun wanita semuanya menangis, hanya Mita yang pada saat itu sangat sulit mengeluarkan air mata. Entah kenapa dia tidak bisa menangis, dia berusaha mengeluarkan air mata secara paksa tapi tidak bisa, sebenarnya hati dan batinnya memberontak tidak karu-karuan, dadanya sesak seolah-olah kekurangan oksigen, dan gemuruh sesak dada itu masih tetap ada sampai sekarang. Mita memandang wajah papa yang pucat dan tubuhnya dibaluti kain kaffan yang putih, tampak guratan-guratan garis diwajahnya yang menandakan sebenanya dia sudah sangat tua. Kami semua para anak-anaknya diminta untuk mencium papa sebagai ciuman perpisahan terakhir, dan tiba giliran Mita. Ketika dia mencium kening papanya, dia merasakan dingin yang menyelimuti bibirnya dan merasakan halus lembutnya kulit papa. Allah….Mita tak kuasa menahan air mata yang dipendamnya, tapi Mita tidak boleh mengeluarkan disaat mencium papa, karena air mata kita tidak diijinkan mengena kulit jenazah karena sudah dimandikan.. “Oh tuhan… cobaan yang kau berikan ini begitu berat, tolonglah hambaMu ini, jangan Kau lepaskan genggaman-Mu di tanganku dalam Menuntun kehidupan di Dunia ini begitu juga ibuku.”

Psstt….sst… angin kencang menyambar wajah Mita sehingga ia sadar akan lamunannya dan tak terasa air mata Mita jatuh dipipi lembutnya ,”Ya Allah….. aku sangat merindukan papa Allah, ampuni dosanya, terimalah dia disisi-Mu” lirih Nya dalam hati. Tak terasa hawa panas seakan telah membara hati Mita. Mita segera mengusap air matanya dan langsung melihat arlojinya.. “Astagfirullah, sudah jam 4 sore, aku belum solat”. Mita segera menuju mesjid terdekat. Ia mengendarai Motornya dan akhirnya dia menemukan mesjid yang tak jauh dari taman. Ia langsung menuju tempat wudhu wanita dan langsung menuju tempat sholat khusus wanita, setelah sholat Mita berdo’a untuk ayahnya dan ibunya serta keteguhan hatinya. Mita segera beranjak dari sana, segera munuju kekampus. Hati yang tadi sedih, tapi entah kenapa sekarang ketika ke jurusan hatinya bahagia. Ya…ada seseorang yang tiba-tiba hadir di hatinya. Dia tahu perasaan ini salah, dia seorang akhwat yang bisa dikatakan sudah terjaga, dia merupakan mas’ul di jurusannya, dia merupaan koordinator akhwat di dalam kajian jurusan, dia seorang mentor, tapi kenapa dia tidak bisa mengendalikan hatinya. Dia sudah mencoba, tapi tidak bisa. Entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan perasaannya…

Setiba dijurusan, dia langsung mengeluarkan laptop yang selalu dia bawa, laptop yang menemani perjalanan dalam segala aktivitasnya dan roti serta susu yang dibelinya sebelum nyampe ke jurusan. Dia segera membuka email,membrowsing segala, mengutak-ngatik program yang ada, memakan roti dan susu,,, dia melihat disekelilingnya, mana pria itu, kok belum kelihatan dari tadi,batinnya yang terus bertanya tapa karua. Pria tersebut entah kenapa membuat hatinya kangen, pria yang bisa dikatakan termasuk golongan ikhwan tapi gaul, pinter bergaul dengan teman-teman, dia pinter bergaul, termasuk bergaul terhadap dirinya. Mita bisa dikatakan akhwat yang pinter menempatkan diri, akhwat yang tidak terlalu saklek, gokil dan humoris, karena Mita menjadi akhwat mempunyai proses yang begitu panjang, tidak langsung seperti sekarang ini. Mita harus masuk golongan ini, golongan itu, dan akhirnya dia menemukan dan menetapkan untuk tetap bertahan ditempat sekarang ini karena ketika berada digolongan ini, dia merasa nyaman dan tentram serta bisa memperbaiki dirinya yang cukup dibilang hedonisme. Sehingga, Mita ngerti gimana menangani teman-temannya, dan bisa mengajak mereka untuk ikut liqo. Karena Mita oranga seperti itu, maka pria tersebut bersikap tidak seperti ikhwan lainnya terhadap seorang akhwat, dan mereka sering berkomunikasi dan bercanda. Apalagi mereka bekerja dalam satu tim, sehingga intensitas bertemu, komunikasi sangat sering dan mereka juga sering ngumpul bareng dan hampir satu tahun lebih mereka bersahabat, dan membuat hati mita ketergantungan terhadap aldy karen jujur mita membutuh kasih sayang seorang pria sejak dia ditinggalkan oleh papanya ketika berumur 9 tahun samapai sekarangpun tidak ada pengganti papa di hati mama, sedangkan kakak dan abangnya sibuk mengurusi diri mereka dan jarang memberikan perhatian kepada Mita, dan hal itu membuat Mita butuh akan perhatian seorang pria dan ketika pria tersebut bersikap perhatian kepada mita maka hati mita akan tertambat ke pria tersebut.

To be Continue

– Nyanyiaan Keteguhan Hati – bag.2

2 thoughts on “– Nyanyiaan Keteguhan Hati – bag.1

your comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s